Perluasan pedagogi digital di sekolah-sekolah Islam telah mengintensifkan ketegangan antara transmisi nilai-nilai agama dan pemenuhan persyaratan akademik dan berbasis kompetensi dari kurikulum nasional Indonesia, namun bukti empiris tentang bagaimana guru benar-benar mendamaikan keduanya di tingkat kelas masih langka. Penelitian ini meneliti bagaimana guru di MTsS Minhajul Ishlah Tebo, sekolah menengah pertama swasta Islam di Provinsi Jambi, menegosiasikan nilai-nilai Islam dan tuntutan kurikulum nasional melalui praktik pembelajaran digital. Desain studi kasus kualitatif digunakan, berdasarkan data dari 14 informan, kepala madrasah, enam guru mata pelajaran agama dan umum, dan tujuh siswa dari kelas VIII dan IX yang dipilih secara sengaja. Data dihasilkan melalui 14 wawancara semi-terstruktur selama 45-60 menit, 12 observasi kelas menggunakan protokol terstruktur, dan analisis 21 dokumen perencanaan pelajaran dan bahan ajar digital. Analisis tematik mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa, dengan kredibilitas yang terjamin melalui triangulasi sumber dan metode dan pemeriksaan anggota. Lima tema yang saling terkait muncul: konvergensi kurikulum terjadi pada tingkat implementasi pedagogis daripada revisi dokumen formal; guru bertindak sebagai mediator nilai di seluruh mata pelajaran agama dan umum; media digital (grup WhatsApp, video instruksional, dan e-modul) berfungsi sebagai pembawa pesan moral dan agama; pembelajaran digital memperkuat motivasi siswa, pembentukan karakter, dan literasi digital; dan integrasi terkendala oleh kesenjangan infrastruktur dan kompetensi digital guru yang tidak merata. Studi ini menyimpulkan bahwa negosiasi tingkat kelas, yang didukung oleh agensi guru dan mediasi digital, menawarkan model yang layak untuk pengembangan pelajar holistik di sekolah-sekolah Islam dan menunjukkan perlunya pengembangan kapasitas kelembagaan.
Copyrights © 2023