Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman spiritual kaum Sufi dalam menapaki jalan tarekat di tengah tantangan modern, dengan fokus pada proses transformasi, hambatan internal- eksternal, peran mursyid, dan aktualisasi konsep tasawuf klasik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan etnografi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 20 salikin dan 2 mursyid Tarekat Naqsyabandiyah pimpinan Prof.Dr.H.SS. Kadirun Yahya MA, observasi partisipatif selama 6 bulan, dan studi dokumen. Analisis data menggunakan analisis tematik Braun & Clarke. Proses transformasi spiritual berpusat pada disiplin dzikir, mujahadah an-nafs, dan ketaatan kepada mursyid. Tantangan utama meliputi: (1) internal: distraksi digital (78% salikin mengakui gangguan gawai), godaan ujub; (2) eksternal: tekanan ekonomi-budaya modern, krisis otoritas mursyid (hanya 38% memiliki sanad terverifikasi), dan komersialisasi spiritual. Mursyid berperan sentral sebagai penjaga otentisitas jalan spiritual, meski menghadapi fragmentasi komunitas. Konsep maqamat teraktualisasi dalam perubahan perilaku berkelanjutan, sedangkan ahwal lebih sering dialami sebagai pengalaman sementara (dzauq). Spiritualitas Sufi dalam tarekat kontemporer mengalami transformasi adaptif namun tetap mempertahankan inti esoterisnya. Keberhasilan suluk sangat bergantung pada kualitas bimbingan mursyid, ketahanan komunitas, dan kemampuan salikin mengelola tantangan modern. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan model tarbiyah ruhiyah yang kontekstual di era digital.
Copyrights © 2026