Latar belakang: Hernia inguinalis indirek, khususnya pada anak, terjadi karena kegagalan penutupan processus vaginalis dan terletak lateral terhadap pembuluh epigastrika inferior. Hernia umumnya didapatkan pada usia 0–5 tahun, pada bayi prematur, serta pada lansia usia 75–80 tahun. Namun demikian, pasien pada kasus ini berusia 13 tahun, usia yang tergolong tidak umum untuk manifestasi hernia kongenital. Kasus: Anak laki-laki 13 tahun dengan keluhan benjolan hilang timbul pada skrotum kiri sejak satu bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik saat posisi berdiri terlihat benjolan lonjong dari inguinal kiri hingga skrotum kiri yang makin menonjol dengan Valsalva test. Saat berbaring, benjolan bisa dimasukkan kembali. Benjolan teraba kenyal, berbatas tegas, permukaan licin, dan reponibel saat ditekan. Testis teraba 2 buah dengan ukuran sama di skrotumnya. Diagnosis hernia inguinalis indirek sinistra; pasien menjalani prosedur herniotomi tanpa komplikasi. Pemulihan pascaoperasi baik tanpa keluhan lanjutan. Pembahasan: Hernia inguinalis indirek pada anak umumnya disebabkan oleh persistensi processus vaginalis dan ditandai benjolan yang muncul saat peningkatan tekanan intraabdomen. Diagnosis bersifat klinis dan tata laksana definitif adalah pembedahan (herniotomi) karena risiko inkarserasi lebih tinggi. Simpulan: Laporan kasus ini menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi tepat pada populasi anak, untuk mencegah komplikasi seperti inkarserasi atau strangulasi.
Copyrights © 2026