Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hernia Inguinal Lateral pada Seorang Anak Berusia 13 Tahun: Laporan Kasus: Laporan Kasus Putri, Felicia Vivian Nowi; Leifon, Dave Edgar; Sharon, Sonya Hedva; Soeselo, Daniel Ardian
Cermin Dunia Kedokteran Vol 53 No 05 (2026): Mei 2026
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v53i05.1970

Abstract

Latar belakang: Hernia inguinalis indirek, khususnya pada anak, terjadi karena kegagalan penutupan processus vaginalis dan terletak lateral terhadap pembuluh epigastrika inferior. Hernia umumnya didapatkan pada usia 0–5 tahun, pada bayi prematur, serta pada lansia usia 75–80 tahun. Namun demikian, pasien pada kasus ini berusia 13 tahun, usia yang tergolong tidak umum untuk manifestasi hernia kongenital. Kasus: Anak laki-laki 13 tahun dengan keluhan benjolan hilang timbul pada skrotum kiri sejak satu bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik saat posisi berdiri terlihat benjolan lonjong dari inguinal kiri hingga skrotum kiri yang makin menonjol dengan Valsalva test. Saat berbaring, benjolan bisa dimasukkan kembali. Benjolan teraba kenyal, berbatas tegas, permukaan licin, dan reponibel saat ditekan. Testis teraba 2 buah dengan ukuran sama di skrotumnya. Diagnosis hernia inguinalis indirek sinistra; pasien menjalani prosedur herniotomi tanpa komplikasi. Pemulihan pascaoperasi baik tanpa keluhan lanjutan. Pembahasan: Hernia inguinalis indirek pada anak umumnya disebabkan oleh persistensi processus vaginalis dan ditandai benjolan yang muncul saat peningkatan tekanan intraabdomen. Diagnosis bersifat klinis dan tata laksana definitif adalah pembedahan (herniotomi) karena risiko inkarserasi lebih tinggi. Simpulan: Laporan kasus ini menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi tepat pada populasi anak, untuk mencegah komplikasi seperti inkarserasi atau strangulasi.
Tragedi di Balik Pembekapan: Ruptur Anterior Inferior Cerebellar Artery Sebagai Penyebab Kematian Mendadak Akibat Asfiksia Liauw, Djai Yen; Sutanto, Eugenia Gerin; Natalie, Agatha Clarice; Anastasia Stella Carmelita; Leifon, Dave Edgar; Fungestu, Eyskens; Kaban, Felix Try Raka; Jusuf, Hans Jasper; Maria Victoria Isabella; Soedjianto, Susanna Gabriella; Tjiu, Wilsen
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 32 No 2 (2026): MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v32i2.3813

Abstract

Introduction: Mechanical asphyxia due to smothering is difficult to diagnose forensically because it often leaves no distinctive signs. Unlike strangulation or hanging, smothering using soft materials generally leaves no external traces, making the mechanism of death difficult to identify. Furthermore, epidemiological data on cerebral vascular rupture due to asphyxia are still limited. This case report aims to add to the forensic literature on variations in asphyxial deaths and strengthen the diagnosis of the cause of sudden death. Case Illustration: A 46-year-old woman was found in a supine position. External examination revealed bruising on the bridge of the nose, philtrum, lower lip, left shoulder blade, inner left upper arm, outer right thigh, and abrasions on the upper lip and left side of the neck caused by blunt force. Internal examination revealed two blood seepage sites in the neck muscles, an enlarged heart, dilated cerebral and cerebellar vessels, and haemorrhage in the posterior brainstem. Discussion: Autopsy findings indicated rupture of the anterior inferior cerebellar artery (AICA), suspected to be triggered by asphyxia. Asphyxia does not always cause death through direct hypoxia, but also through increased intracranial pressure that triggers cerebral blood vessel rupture. This mechanism can be caused by airway obstruction or cerebral venous occlusion. Conclusion: AICA rupture due to asphyxia is a rare phenomenon. Mechanical asphyxia due to smothering requires attention because it can cause hypoxia, decreased consciousness, and even death. This report serves as an important forensic reference in the diagnosis of sudden death due to asphyxia.