Di era globalisasi digital, budaya populer memainkan peran penting dalam membentuk wacana publik dan identitas kaum muda. Penelitian ini mengkaji bagaimana identitas kaum muda dibangun dan direpresentasikan dalam pidato BTS di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2018 dan 2020. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan Analisis Wacana Kritis (CDA) dari Norman Fairclough (1995), yang terdiri dari analisis tekstual, praktik diskursif, dan praktik sosial. Data diperoleh dari transkrip pidato BTS, didukung oleh teori representasi Stuart Hall (1997). Temuan menunjukkan bahwa identitas pemuda dibangun melalui berbagai strategi linguistik, termasuk narasi pribadi, penggunaan kata ganti, metafora, pengulangan, dan bahasa emosional. Pemuda digambarkan sebagai individu yang tangguh, terhubung secara global, dan bertanggung jawab secara sosial. Pada tingkat diskursif, pidato-pidato tersebut dibentuk oleh kolaborasi institusional dan disebarluaskan secara luas melalui media digital, memungkinkan partisipasi audiens. Pada tingkat sosial, wacana tersebut mencerminkan ideologi dominan pemberdayaan individu, kewarganegaraan global, dan inklusivitas. Namun, representasi tersebut cenderung menekankan agensi individu sambil mengabaikan faktor struktural seperti ketidaksetaraan sosial. Kesimpulannya, pidato BTS berfungsi tidak hanya sebagai teks komunikatif tetapi juga sebagai praktik sosial yang membangun identitas pemuda dalam wacana global.
Copyrights © 2026