Studi ini mengkaji fenomena fragmentasi sosial yang muncul antara penduduk pendatang dan penduduk lokal di Surabaya sebagai bagian dari dinamika sosial di kota yang terus berubah. Fragmentasi sosial terjadi karena perbedaan dalam identitas budaya, akses sosial, cara berkomunikasi, serta pengaruh modernisasi yang mempercepat perubahan struktur sosial masyarakat urban. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan literatur, studi ini mengeksplorasi berbagai sumber akademis seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian untuk memahami pola, penyebab, serta dampak sosial dari fenomena tersebut. Analisis deskriptif-analitis diterapkan untuk menafsirkan temuan dari literatur dan menghubungkannya dengan kondisi sosial saat ini di Surabaya yang menunjukkan kecenderungan pengelompokan antar komunitas. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa modernisasi menciptakan persaingan dalam ruang, akses ekonomi, dan pola hunian yang memisahkan antara penduduk lokal dan pendatang, sehingga menambah jarak sosial dan mengurangi kohesi sosial. Studi ini juga menemukan bahwa fragmentasi sosial tidak hanya dipicu oleh faktor ekonomi dan demografi, tetapi juga oleh konstruksi sosial yang lahir dari stereotip, prasangka, dan pengalaman interaksi yang tidak setara. Ketidakadaan jembatan sosial antara kedua kelompok mengakibatkan komunikasi yang efektif menjadi terbatas dan integrasi di ruang publik menjadi minim. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan perlunya penguatan kohesi sosial melalui kebijakan yang inklusif, penggunaan ruang publik yang bersama, serta peningkatan nilai toleransi antar kelompok. Diharapkan bahwa temuan ini dapat menjadi referensi untuk penelitian di masa yang akan datang dan memberikan sumbangan bagi pengembangan strategi sosial yang lebih harmonis dalam upaya membangun integrasi masyarakat perkotaan.
Copyrights © 2026