Limbah kulit singkong memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol karena kandungan selulosanya mencapai 80–85%. Namun, pemanfaatan limbah ini belum optimal meski produktivitasnya tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah asal limbah dan volume starter ragi (Saccharomyces cerevisiae) terbaik dalam proses produksi bioetanol. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor: asal limbah (Paya Gaboh dan Saree) serta volume starter ragi (250 mL, 350 mL, dan 450 mL). Proses produksi meliputi empat tahapan, yaitu pretreatment, hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Parameter pengujian mencakup rendemen, densitas, viskositas, kadar bioetanol, dan titik kabut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah asal limbah berpengaruh nyata terhadap densitas produk, dengan kualitas terbaik berasal dari daerah Saree (L2). Volume starter ragi berpengaruh terhadap rendemen dan densitas, di mana volume 250 mL (S1) memberikan hasil paling optimal. Terdapat interaksi antara daerah asal limbah dan volume starter ragi terhadap densitas bioetanol. Kombinasi perlakuan terbaik ditemukan pada interaksi limbah asal Saree dengan volume starter 250 mL (L2S1). Kesimpulannya, perbedaan karakteristik nutrisi pada daerah asal dan optimasi volume ragi sangat menentukan efisiensi serta kualitas konversi limbah kulit singkong menjadi bioetanol.
Copyrights © 2026