Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Formulation of Liquid Compound Fertilizer Enriched with Nutritional Elements for Shallot Plants on Inceptisol Reuleut Soil Fahira, Fahira; Akbar, Halim; Ismadi, Ismadi; Handayani, Selvy; Nazirah, Laila; Muliana, Muliana
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i2.796

Abstract

Shallots (Allium ascalonicum L.) are one of the leading vegetable commodities in Indonesia that have many benefits, such as a flavouring for cooking spices, raw materials for the food industry, and traditional medicinal ingredients. Inceptisol is a soil with a low content of essential nutrients. However, it can still be pursued with the proper technological handling, one of which is the application of Liquid Compound Fertilizer (PMC). This study aims to determine the effectiveness of the liquid compound fertilizer (PMC) formula applied to Inceptisol soil on the growth and yield of shallot plants. This research was conducted at the Experimental Garden, Faculty of Agriculture, Malikussaleh University, from November to December 2023. This study used a single-factor Complete Randomized Design (RAL) with five replicates. PMC treatment consists of 5 levels, namely (K0) Control, (K1) PMC 25%, (K2) PMC 50%, (K3) PMC 75%, and (K4) PMC 100%. The results showed that applying PMC could increase the growth of shallots in the number of cloves and wet and dry crop weight with a PMC concentration of 50%. And PMC treatment of 75% can increase plant height. PMC treatment is 100% able to increase the number of leaves/plants. The application of PMC can affect the chemical properties of the soil, namely increasing the soil's pH value (H2O) by 0.84%, the soil organic by 1.5%, the total N by 2.73%, and the available P by 5.62%.
Aplikasi Paklobutrazol dan Sukrosa Terhadap Pertumbuhan Umbi Mikro Kentang (Solanum tuberosum L.) Secara in vitro Ananta, Dzaky; Lukman, Lukman; Handayani, Selvy; Nazirah, Laila; Nilahayati, Nilahayati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 4 No. 3 (2025): Vol 4, No 3 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Septembe
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol dan sukrosa terhadap pembentukan umbi mikro kentang (Solanum tuberosum L.) secara in vitro. Permasalahan utama dalam budidaya kentang adalah rendahnya kualitas benih akibat penggunaan benih turunan yang rentan penyakit. Teknik kultur jaringan menjadi alternatif untuk menghasilkan bibit berkualitas dalam waktu relatif singkat. Keberhasilan pembentukan umbi mikro dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh dan sumber karbon seperti sukrosa. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh pada Oktober–Desember 2024 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Faktor pertama adalah paklobutrazol dengan tiga taraf (0, 5, dan 10 mg/L), sedangkan faktor kedua adalah sukrosa (30, 60, dan 90 g/L). Terdapat 9 kombinasi perlakuan dengan 10 ulangan sehingga diperoleh 90 unit percobaan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif dan pembentukan umbi mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, waktu tumbuh tunas, jumlah nodus, jumlah akar, dan jumlah umbi per planlet. Konsentrasi terbaik adalah 5 mg/L. Sementara itu, sukrosa berpengaruh terhadap waktu tumbuh tunas dan jumlah akar, dengan konsentrasi terbaik 90 g/L. Interaksi kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata pada sebagian besar variabel. Kombinasi perlakuan terbaik dalam mempercepat pembentukan umbi mikro adalah paklobutrazol 5 mg/L dan sukrosa 90 g/L, dengan waktu pembentukan umbi tercepat pada 42 hari setelah tanam. Hasil ini menunjukkan bahwa pengaturan konsentrasi paklobutrazol dan sukrosa dapat meningkatkan efisiensi produksi benih kentang secara in vitro.
Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Komponen Hasil Beberapa Varietas Jagung Pulut (Zea mays var. Ceratina) Mauliana, Nova; Nilahayati, Nilahayati; Safrizal, Safrizal; Handayani, Selvy; Fadhliani, Fadhliani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Vol 4, No 4 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Desember
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung pulut merupakan komoditas pangan potensial dengan kandungan amilopektin tinggi dan tekstur pulen yang disukai, namun produktivitasnya masih relatif rendah. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui penggunaan varietas unggul dan aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa varietas jagung pulut dan pemberian ZPT terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian dilaksanakan di Desa Reuleut Timu, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, pada Desember 2024 hingga Maret 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas: URI (V1), Rasanya F1 (V2), Jantan F1 (V3), dan Jutawan F1 (V4). Faktor kedua adalah ZPT: 0 ml/l air (Z0), 6 ml/l air (Z1), dan 12 ml/l air (Z2). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, klorofil daun, panjang tongkol (dengan dan tanpa kelobot), berat tongkol (dengan dan tanpa kelobot), jumlah baris per tongkol, dan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap sebagian besar parameter, dengan varietas terbaik adalah Jutawan F1 (V4). Pemberian ZPT berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, klorofil daun, dan panjang tongkol berkelobot, dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi 12 ml/l air (Z2). Terdapat interaksi antara varietas dan ZPT pada tinggi tanaman dan klorofil daun. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi varietas unggul dan ZPT efektif meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung pulut.
PPengaruh Daerah Pengambilan Limbah Kulit Singkong (Manihot Esculenta L.) Dan Volume Starter Ragi Terhadap Kuantitas Dan Kualitas Produk Bioetanol Inayatillah1, Aufa; Handayani, Selvy; Khaidir, Khaidir; Nazaruddin, Muhammad; Fridayanti, Nelly
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Maret 2
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah kulit singkong memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol karena kandungan selulosanya mencapai 80–85%. Namun, pemanfaatan limbah ini belum optimal meski produktivitasnya tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah asal limbah dan volume starter ragi (Saccharomyces cerevisiae) terbaik dalam proses produksi bioetanol. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor: asal limbah (Paya Gaboh dan Saree) serta volume starter ragi (250 mL, 350 mL, dan 450 mL). Proses produksi meliputi empat tahapan, yaitu pretreatment, hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Parameter pengujian mencakup rendemen, densitas, viskositas, kadar bioetanol, dan titik kabut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah asal limbah berpengaruh nyata terhadap densitas produk, dengan kualitas terbaik berasal dari daerah Saree (L2). Volume starter ragi berpengaruh terhadap rendemen dan densitas, di mana volume 250 mL (S1) memberikan hasil paling optimal. Terdapat interaksi antara daerah asal limbah dan volume starter ragi terhadap densitas bioetanol. Kombinasi perlakuan terbaik ditemukan pada interaksi limbah asal Saree dengan volume starter 250 mL (L2S1). Kesimpulannya, perbedaan karakteristik nutrisi pada daerah asal dan optimasi volume ragi sangat menentukan efisiensi serta kualitas konversi limbah kulit singkong menjadi bioetanol.