Papua Has Complex Socio-Cultural Characteristics With The Dominance Of Patriarchal Values Influencing The Construction Of Gender Roles Within Society. In Many Cases, Papuan Women Are Placed In The Domestic Sphere And Have Limited Access To Public And Political Spaces. This Condition Impacts The Low Level Of Both Numerical And Substantive Representation Of Papuan Women In Formal Political Institutions. From The Perspective Of Political Communication, The Low Political Participation Of Papuan Women Is Closely Related To The Patterns Of Political Communication That Develop Within Society. Political Communication Plays A Central Role In Transmitting Political Values And Shaping Public Opinion. However, In Practice, The Involvement Of Women, Especially Indigenous Papuan Women, Still Faces Various Challenges In Terms Of Cultural, Social, Educational, And Political Structural Aspects That Have Not Fully Provided Equal Opportunities. This Study Employs A Qualitative Research Method With A Descriptive Approach To Gain An In-Depth Understanding Of The Forms Of Papuan Women’s Participation In Political Processes And The Obstacles They Encounter. Data Collection Techniques Were Carried Out Through Interviews, Observation, And Documentation. The Findings Indicate That The Participation Of Papuan Women In Political Policymaking In Sorong Regency Has Begun To Develop, Marked By Increased Involvement Of Women In Political Organizations, Government Institutions, And Local Decision-Making Activities. However, Such Participation Remains Suboptimal Due To Low Political Representation, The Persistence Of Patriarchal Culture, Limited Human Resource Capacity, And Minimal Institutional Support For Women’s Political Empowerment. Therefore, Greater Efforts Are Needed From The Government, Political Parties, And Society To Enhance Capacity-Building And Provide Broader Access For Papuan Women To Actively Engage In Political Policymaking Processes. ABSTRAK Papua memiliki karakteristik sosial budaya yang cukup kompleks dengan dominasi nilai-nilai patriarki yang mempengaruhi konstruksi peran gender dalam masyarakat. Dalam banyak kasus yang ditemui misalnya perempuan Papua ditempatkan pada rana domestik dan memiliki akses terbatas terhadap ruang publik dan politik Hal ini berimplikasi pada rendanya tingkat representasi numerik maupun substantive perempuan Papua dalam lembaga-lembaga politik formal. Dalam prespektif komunikasi politik, rendanya partisipasi politik perempuan Papua erat kaitannya dengan pola komunikasi politik yang berkembang. Komunikasi politik memainkan peran sentral dalam mentransisikan nilai-nilai politik, membentuk opini public Namun, dalam praktiknya keterlibatan perempuan, khususnya perempuan asli Papua, masih menghadapi berbagai tantangan baik dari aspek budaya, sosial, pendidikan, maupun struktur politik yang belum sepenuhnya memberikan ruang yang setara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami secara mendalam bentuk partisipasi perempuan Papua dalam proses politik serta hambatan yang dihadapi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi perempuan Papua dalam kebijakan politik di Kabupaten Sorong mulai mengalami perkembangan, ditandai dengan meningkatnya keterlibatan perempuan dalam organisasi politik, lembaga pemerintahan, serta kegiatan pengambilan keputusan di tingkat lokal. Namun demikian, partisipasi tersebut masih belum optimal karena dipengaruhi oleh rendahnya representasi politik, kuatnya budaya patriarki, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, dan minimnya dukungan kelembagaan terhadap pemberdayaan politik perempuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius dari pemerintah, partai politik, dan masyarakat dalam mendorong peningkatan kapasitas serta membuka akses yang lebih luas bagi perempuan Papua untuk terlibat aktif dalam proses kebijakan politik.
Copyrights © 2026