Ayah yang hadir secara fisik tetapi absen secara emosional, atau dikenal sebagai invisible father, merupakan fenomena yang belum banyak diteliti pada keluarga utuh berbudaya Madura. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan faktor penyebab invisible father, dimensi yang mempertahankan kondisi tersebut, serta dampaknya terhadap pembentukan konsep diri anak usia dini pada keluarga di Desa Teja Timur, Kabupaten Pamekasan. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi kualitatif dengan melibatkan empat keluarga sebagai subjek penelitian yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan dewasa, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa invisible father terbentuk dari enam faktor berlapis, yaitu tuntutan pekerjaan, pola kerja yang tidak selaras ritme anak, nilai budaya patriarkis bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato, warisan pola asuh antargenerasi, ketidaknyamanan ekspresi emosi, serta konstruksi peran gender yang tidak seimbang. Kondisi tersebut bertahan melalui empat dimensi yang saling mengunci dan berdampak nyata pada kelima dimensi konsep diri anak secara bersamaan, yaitu konsep diri fisik, psikologis, sosial, emosional, dan prestasi. Kajian ini merekomendasikan program parenting berbasis komunitas yang secara khusus melibatkan
Copyrights © 2026