Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi ibu sebagai mediator dalam menjaga figur ayah pada anak usia dini di keluarga pekerja roster. Sistem kerja ini menyebabkan ayah hanya bertemu anak dua bulan sekali, sehingga berisiko memicu fenomena fatherless secara psikologis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap ibu yang memiliki suami pekerja jarak jauh dan memiliki anak usia 4-6 tahun. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu menjalankan tiga peran mediating utama. Pertama, peran komunikator melalui pengaturan jadwal interaksi digital yang rutin. Kedua, peran narator melalui pemberian pemahaman positif tentang alasan keberadaan ayah di tempat kerja untuk menghindari rasa penolakan pada anak. Ketiga, peran simbolik dengan melibatkan atribut fisik ayah dalam aktivitas harian anak. Temuan ini menyimpulkan bahwa peran aktif ibu mampu menghadirkan sosok ayah secara psikologis meskipun terdapat jarak fisik yang besar. Melalui peran mediator ini, kelekatan emosional anak terhadap ayah tetap terjaga secara stabil. Penelitian ini bermanfaat sebagai referensi bagi keluarga pekerja jarak jauh dalam mengoptimalkan pola asuh anak usia dini agar tetap mendapatkan figur ayah yang utuh.
Copyrights © 2026