Penelitian berfokus pada reaktualisasi wayang potehi di Jombang dan harmoni sosial multietnis antara masyarakat Jawa dan Tionghoa. Wayang Potehi kini bisa dinikmati masyarakat luas, meskipun sempat mengalami pelarangan pada masa Orde Baru dan pandemi COVID-19. Pengumpulan data melalui wawancara dengan ketua komunitas wayang potehi, dalang, dan masyarakat sekitar, serta melalui kajian literatur. Metode wawancara dengan teknik Snowball sehingga informasi didapatkan secara berkelanjutan. Data dianalisis menggunakan metode Miles dan Huberman (kondensasi data, penyajian data menggunakan timeline, dan penarikan kesimpulan). Hasil penelitian dibandingkan dengan literatur dan penelitian lain yang relevan untuk memvalidasi temuan. Wayang Potehi di Jawa Timur, khususnya di Gudo, Jombang, telah berkembang menjadi lebih dari sekadar seni hiburan dan menjadi simbol harmoni sosial dan budaya antara etnis Tionghoa dan suku Jawa. Dukungan masyarakat dan pihak berwenang membantu kelangsungan pertunjukan. Reaktualisasi dari segi sosial, ekonomi, dan keagamaan, menjadikannya lebih inklusif dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk anak-anak pesantren. Secara ekonomi, pertunjukannya mendapat dukungan donatur dan berkembang hingga ke luar negeri. Dalam aspek keagamaan, menunjukkan adaptasi budaya dengan tampil di berbagai tempat, termasuk gereja dan pesantren. Simbol harmoni sosial melibatkan toleransi, koeksistensi, pluralisme dan keberagaman, kompetisi serta kreativitas. Pementasannya berhasil mendorong toleransi dan kebersamaan antara berbagai agama dan etnis, serta memperlihatkan fleksibilitas budaya yang luas. Pementasannya diberbagai acara lintas agama, menunjukkan kemampuannya memfasilitasi toleransi multietnis. Di Gudo, masyarakat dari berbagai agama hidup rukun dan menghormati satu sama lain. Kreativitas terlihat dari berbagai bentuk inovasi, seperti boneka dengan wajah tokoh-tokoh penting dan penyesuaian bahasa daerah.
Copyrights © 2026