Fenomena glass ceiling merupakan hambatan tidak terlihat yang membatasi perempuan dalam mencapai posisi kepemimpinan strategis. Dalam konteks lembaga dakwah, fenomena ini menjadi penting karena meskipun perempuan berperan aktif dalam berbagai aktivitas dakwah, keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena glass ceiling dalam lembaga dakwah dengan fokus pada tantangan struktural dan kultural serta peluang kepemimpinan perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan struktural berupa sistem organisasi yang hierarkis dan didominasi oleh laki-laki, serta hambatan kultural berupa budaya patriarki dan interpretasi keagamaan yang bias gender, saling memperkuat dalam membatasi mobilitas perempuan. Namun demikian, perkembangan teknologi digital dan meningkatnya kesadaran kesetaraan gender membuka peluang baru bagi perempuan dalam kepemimpinan dakwah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena glass ceiling dalam lembaga dakwah merupakan hasil interaksi antara faktor struktural dan kultural, sehingga diperlukan transformasi yang komprehensif untuk menciptakan kepemimpinan yang lebih inklusif.
Copyrights © 2026