Studi ini secara kritis meneliti landasan filosofis akuntansi perilaku untuk menantang asumsi netralitas informasi akuntansi, yang telah lama dianggap sebagai karakteristik utama pelaporan keuangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka kualitatif, menganalisis berbagai studi yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025 dari jurnal internasional, laporan badan standar akuntansi, dan studi interdisipliner yang menghubungkan akuntansi dengan psikologi, sosiologi, dan teori kritis. Hasilnya menunjukkan bahwa akuntansi tidak sepenuhnya bebas nilai tetapi dipengaruhi oleh perilaku manusia, konteks sosial, dan dinamika kelembagaan. Dalam proses pelaporan keuangan, akuntan, manajer, dan auditor membawa pertimbangan subjektif yang memengaruhi penyajian dan interpretasi informasi keuangan. Lebih lanjut, pengembangan Kecerdasan Buatan dalam praktik akuntansi menciptakan risiko baru berupa bias algoritmik karena data pelatihan yang tidak representatif, kurangnya transparansi model, dan pengawasan manusia yang lemah. Kondisi ini dapat mengurangi skeptisisme profesional, yang sangat penting untuk menjaga kualitas pelaporan keuangan. Perspektif akuntansi kritis juga menekankan bahwa akuntansi sering berfungsi sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan dan kepentingan pihak dominan, bukan sekadar representasi objektif dari realitas ekonomi. Oleh karena itu, netralitas akuntansi lebih baik dipahami sebagai tujuan normatif daripada kondisi yang dapat dicapai secara empiris. Studi ini menekankan pentingnya mengintegrasikan refleksi filosofis, wawasan perilaku, dan kesadaran etis dalam mengembangkan praktik, standar, dan pendidikan akuntansi yang lebih responsif terhadap kompleksitas lingkungan manusia dan sosial.
Copyrights © 2026