Ketidakadilan gender masih menjadi isu krusial dalam kehidupan sosial, terutama karena adanya stereotip negatif terhadap perempuan yang bersumber dari ideologi patriarki. Kondisi ini melahirkan gerakan feminisme hingga gerakan tersebut berkembang menjadi suatu budaya sebagai respons atas dominasi struktural yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Feminisme merupakan gerakan yang lahir dari perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan hak dan keadilan dengan laki-laki. Perlawanan terhadap stereotip perempuan akibat ideologi patriarki juga dapat direpresentasikan melalui media populer seperti web series, salah satunya melalui platform Netflix. Atas dasar itu, penelitian ini memilih web series Gadis Kretek sebagai objek kajian. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji representasi budaya feminisme pada tokoh perempuan dalam web series Netflix Gadis Kretek melalui pendekatan analisis semiotika Roland Barthes dengan model two orders of signification yang terdiri atas makna denotatif, konotatif, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dasiyah merepresentasikan budaya feminisme melalui keberanian melawan norma patriarki, kemandirian ekonomi, menunjukkan kebebasan berekspresi sebagai hak atas otonomi tubuhnya, dan keterlibatan dalam ranah maskulin seperti meracik saus kretek serta kemampuannya dalam memimpin usaha keluarga. Representasi feminisme tersebut berhasil dikaji melalui analisis semiotika Roland Barthes, yang menegaskan bahwa Gadis Kretek tidak hanya mengangkat sejarah industri kretek, tetapi juga menyuarakan perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan gender. Artinya, Representasi budaya feminisme tersebut menegaskan bahwa Gadis Kretek tidak hanya mengangkat sejarah industri kretek, tetapi juga menyuarakan perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan gender sekaligus memberikan kontribusi bagi diskursus feminisme di Indonesia.
Copyrights © 2026