Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gender Communication Strategies for Women’s Empowerment: Evidence from Community Programs in Indonesia Elis Yulianti; Harys Kristanto; Hilda Sri Rahayu; Yolandita Angga Reza; Wahyu Kurniawan
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i2.4985

Abstract

This research examines the importance of gender communication within the Program for Enhancing the Role of Women toward Healthy and Prosperous Families (P2WKSS) in Karangsatu Village, Bekasi. This program is a key effort aimed at empowering women and reducing poverty. Using the Delphi Method, the study involved a group of experts and community members through three repeated rounds to pinpoint, improve, and reach an agreement on the key components of the program. The results show that P2WKSS has effectively changed women's roles from being home caregivers to becoming economic participants, business owners, and decision-makers, which in turn has positively impacted local development. Effective methods of communication—utilizing face-to-face persuasion, casual meetings, and digital tools like WhatsApp—were identified as vital in promoting inclusivity and building trust, even though cultural and language obstacles persist. Symbolic resources such as uniforms, memberships in cooperatives, and stories of success acted as motivating instruments that strengthened women's identities and their ability to work together. Recognizing gender sensitivity, health programs, and collaboration among various stakeholders were found to be essential for the ongoing success of the program. The research results indicate that P2WKSS is not just a project focused on welfare; rather, it is a comprehensive empowerment system. This shows that empowering women, when integrated with communication, governance, and local economic structures, can lead to significant and lasting social change.
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM PROSES SELEKSI KEPEMIMPINAN BERBASIS KOMPETENSI DI BUMN PADA ERA PERSAINGAN GLOBAL Elis Yulianti
MBA Journal – Management, Business Administration, and Accounting Journal Vol. 1 No. 02 (2025): MBA Journal – Management, Business Administration, and Accounting Journal
Publisher : Universitas Sains Indonesia Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemimpin dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak hanya memerlukan kompetensi teknis semata, tetapi juga dituntut untuk memiliki kecakapan dalam komunikasi organisasi, terutama dalam konteks mengarahkan transformasi korporasi di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Dalam konteks tersebut, komunikasi menjadi fondasi penting dalam proses pengambilan keputusan strategis, termasuk dalam seleksi figur pemimpin tertinggi, yakni CEO. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi organisasi dalam proses seleksi CEO BUMN berbasis kompetensi. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan studi literatur, penelitian ini memetakan relasi antara nilai-nilai kepemimpinan, strategi komunikasi korporat, dan mekanisme seleksi yang mengedepankan kompetensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan dalam seleksi CEO tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manajerial atau teknis semata, melainkan sangat bergantung pada kemampuan komunikasi interpersonal, komunikasi massa, serta komunikasi persuasif yang diterapkan dalam kerangka fungsi-fungsi manajerial POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Selain itu, integrasi nilai-nilai kepemimpinan global seperti adaptabilitas, kolaborasi lintas budaya, dan visi transformasional menjadi faktor penting dalam membentuk profil pemimpin yang efektif. Rekomendasi dari penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kebijakan komunikasi strategis dalam sistem manajemen sumber daya manusia BUMN agar proses seleksi pemimpin dapat berjalan lebih objektif, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman.
Representasi Makna Budaya Feminisme Dalam Web Series Netflix Gadis Kretek (Analisis Semiotika Roland Barthes) Nurul Zakiah; Elis Yulianti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8710

Abstract

Ketidakadilan gender masih menjadi isu krusial dalam kehidupan sosial, terutama karena adanya stereotip negatif terhadap perempuan yang bersumber dari ideologi patriarki. Kondisi ini melahirkan gerakan feminisme hingga gerakan tersebut berkembang menjadi suatu budaya sebagai respons atas dominasi struktural yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Feminisme merupakan gerakan yang lahir dari perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan hak dan keadilan dengan laki-laki. Perlawanan terhadap stereotip perempuan akibat ideologi patriarki juga dapat direpresentasikan melalui media populer seperti web series, salah satunya melalui platform Netflix. Atas dasar itu, penelitian ini memilih web series Gadis Kretek sebagai objek kajian. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji representasi budaya feminisme pada tokoh perempuan dalam web series Netflix Gadis Kretek melalui pendekatan analisis semiotika Roland Barthes dengan model two orders of signification yang terdiri atas makna denotatif, konotatif, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dasiyah merepresentasikan budaya feminisme melalui keberanian melawan norma patriarki, kemandirian ekonomi, menunjukkan kebebasan berekspresi sebagai hak atas otonomi tubuhnya, dan keterlibatan dalam ranah maskulin seperti meracik saus kretek serta kemampuannya dalam memimpin usaha keluarga. Representasi feminisme tersebut berhasil dikaji melalui analisis semiotika Roland Barthes, yang menegaskan bahwa Gadis Kretek tidak hanya mengangkat sejarah industri kretek, tetapi juga menyuarakan perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan gender. Artinya, Representasi budaya feminisme tersebut menegaskan bahwa Gadis Kretek tidak hanya mengangkat sejarah industri kretek, tetapi juga menyuarakan perjuangan perempuan dalam menuntut kesetaraan gender sekaligus memberikan kontribusi bagi diskursus feminisme di Indonesia.