Mubtada’ berupa nakirah pada susunan jumlah ismiyyah menurut kaidah dasar dianggap fenomena tidak umum kecuali disertai komponen musawwigh. Tetapi, hal ini banyak ditemui dalam Al-Qur’an dengan beraneka ragam fungsi makna. Tujuan kajian ini untuk mengategorikan berbagai bentuk musawwighat mubtada’ nakirah, serta memaparkan implikasi sintaksis dan semantiknya. Metode kualitatif-deskriptif digunakan melalui pendekatan integratif antara sintaksis dan semantik. Menggunakan data berupa ayat-ayat Al-Qur’an dan jurnal yang relevan, lalu dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis dengan gramatikal konstektual. Hasil temuan menunjukkan mubtada’ nakirah dalam Al-Qur’an digunakan secara terstruktur dengan musawwighat sintaksis, semantik, dan pragamatis. Memaparkan dua puluh tiga musawwighat secara rinci, serta menegaskan bahwa integrasi bentuk dan makna dalam jumlah ismiyyah berfungsi sebagai strategi wacana, bukan sekedar kaidah nahwu. Dari temuan diketahui bahwa penggunaan mubtada’ berupa nakirah bukan sebuah pemalingan kaidah, tetapi merupakan strategi kebahasaan yang sistematis dan bermakna.
Copyrights © 2026