Pendingin ruangan di perkantoran merupakan faktor yang memengaruhi kenyamanan dan kesehatan pekerja, yang berpotensi menimbulkan keluhan kesehatan yang dikenal sebagai Sick Building Syndrome (SBS). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh suhu ruangan terhadap SBS pekerja pada PT. PLN PERSERO KALTIMRA di Balikpapan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah 39 pekerja (total sampling). Variabel independen adalah suhu ruangan yang dikategorikan sebagai ‘N’ dan ‘TN’ (suhu nyaman 23°C – 26oC Permenkes No. 48 Tahun 2016) dan variabel dependen adalah skor total SBS. Data suhu diukur selama 7 hari menggunakan mini temperature humidity meter, sedangkan data SBS dikumpulkan melalui kuesioner skala Guttman yang terdiri dari 20 item pertanyaan. Karena data skor SBS tidak berdistribusi normal (uji Shapiro-Wilk, p=0.041), analisis hipotesis dilakukan menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney U. Menunjukkan bahwa dari 9 ruangan, 4 ruangan (44%) terkategori ‘TN’ dengan suhu rata-rata di bawah standar minimal. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan nilai signifikansi p=0.000 (p < 0.05), yang mengindikasikan adanya perbedaan skor SBS yang sangat signifikan antara kelompok pekerja di ruangan ‘N’ dan ‘TN’. Rata-rata peringkat (Mean Rank) skor SBS pada kelompok ‘TN’ (27.28) lebih tinggi dibandingkan kelompok ‘N’ (10.24). Disimpulkan bahwa pendingin ruangan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap SBS pekerja pada PT. PLN PERSERO KALTIMRA. Pekerja yang beraktivitas di ruangan dengan suhu di bawah standar kenyamanan terbukti mengalami SBS yang lebih tinggi.
Copyrights © 2025