Penelitian ini bertujuan untuk meformulasikan tradisi uang panaik dalam perspektif budaya dan gengsi di masyarakat Jeneponto. Kajian yang digunakan dalam menganalisis data adalah, yakni linguistik antropologi di antaranya performasi, indeksikalitas, dan partisipan (Duranti, 1997). Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, (1) metode simak partisipasi dengan teknik catat, dan (2) metode wawancara dengan teknik tidak terstuktur. Adapun pengumpulan data dengan melakukan tiga tahapan, (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi dan simpulan. Hasil dan pembahasan tentang penelitian ini terdapat struktur kebahasaan dari performansi, indesikalitas, partisipan dalam perspektif budaya dan gengsi di antaranya: (1) paralelisme (anne buraknea akkanaiyya eroki nipassialle batang kalennea pikiranna, siagang nyawana). Metafora (anggattilik bunga siagang dikattili bunga, kamma golla nierang ri dallekangku). Repetisi (gauk bajik siangang appasialle nyawa rua anjari sekre, iputri saiangang iputra). Reduplikasi (ampe-ampenta, kale-kalenna, dan seppek-seppekna). (2) Indeksikalitas dalam perspektif budaya dan gengsi terdapat: Penerimaan, jalan yang benar, jiwa, laki-laki, perempuan, menyatukan, sambutan manis, etika, ahli waris, dan tentangga. Indeksikalitas tersebut ditandai dari kata (batang kalenna, pikirannya, nyawana, angngatilik, dikattilik, rua anjari sekre, golla, ampe-ampenta, kale-kalena, teppe-seppekna, dan jama-jammanna). (3) Partisipan dalam perspektif budaya dan gengsi terdapat deiksis persona enklitik orang pertama tunggal ku (aku), orang ketiga jamak ta (kita), orang ketiga tunggal na (nya) dari kata atau frasa kalennna, pikiranna, nyawana, dalallekanku, ammpe-amppeanta, kale-kalenna, seppe-seppekna. Dapat disimpulkan bahwa pada tradisi lisan uang panaik di masyarakat Jeneponto terdapat tiga bagian, (1) performansi, (2) indeksikalitas, (3) partisipan.
Copyrights © 2025