Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara kerja penerjemahan, terutama melalui mesin terjemahan yang populer yaitu Google Translate dan ChatGPT. Namun, kemampuan keduanya dalam menerjemahkan istilah budaya Madura yang memiliki makna sosial dan historis mendalam masih jarang dikaji secara komparatif. Penelitian ini menganalisis 29 istilah budaya dari “Mozaik Caréta dâri Madhurâ” dengan menggunakan metode dan prosedur penerjemahan Newmark (1988). Hasil dari penelitian ini Adalah bahwa kedua mesin masih bergantung pada penerjemahan literal/literal translation (86%) dan prosedur transferensi/ transference (86% pada Google Translate dan 85% pada ChatGPT), sehingga bentuk asli istilah budaya banyak dipertahankan. Perbedaan utama terlihat pada penggunaan padanan fungsional (functional equivalent) yang lebih sering muncul pada Google Translate, dan padanan deskriptif (descriptive equivalent) yang hanya ditemukan pada ChatGPT. Temuan ini menunjukkan bahwa ChatGPT lebih mampu memberi konteks tambahan, sementara keduanya tetap membutuhkan penyuntingan manusia untuk menjaga akurasi budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian penerjemahan budaya, terutama untuk bahasa daerah Indonesia yang masih minim dokumentasi digital.
Copyrights © 2026