Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh inflasi, ekspor, dan impor terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di Indonesia dengan menggunakan pendekatan Vector Error Correction Model (VECM). Data yang digunakan meliputi periode 2010–2024 dengan variabel utama inflasi, ekspor, impor, dan nilai tukar. Hasil estimasi menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah, yang mengartikan inflasi dapat menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah. Sedangkan ekspor dan impor tidak terbukti signifikan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Temuan ini menegaskan bahwa kestabilan inflasi menjadi faktor kunci dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kestabilan kurs. Analisis Impulse Response Function (IRF) memperlihatkan bahwa nilai tukar merespons tekanan inflasi secara kuat pada periode awal, meskipun efeknya cenderung stabil dalam jangka panjang. Sementara itu, hasil Variance Decomposition (VD) menunjukkan bahwa kontribusi ekspor dan impor terhadap fluktuasi nilai tukar relatif kecil dibandingkan inflasi. Struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi oleh komoditas primer seperti batubara, kelapa sawit, dan mineral menyebabkan dampaknya terhadap penguatan kurs belum optimal. Di sisi lain, impor barang pokok dan bahan baku yang tinggi meningkatkan kerentanan inflasi domestik serta memperlemah stabilitas nilai tukar. Integrasi perspektif Ekonomi Islam memberikan landasan konseptual bahwa penguatan sektor riil melalui hilirisasi ekspor dan substitusi impor sejalan dengan prinsip maqashid al-shariah, terutama dalam menjaga harta (hifdz al-mal) dan ketahanan pangan (hifdz an-nafs). Selain itu, penelitian ini dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 8 (pertumbuhan ekonomi inklusif dan pekerjaan layak) serta tujuan 10 (pengurangan ketimpangan), yang menekankan pentingnya industrialisasi bernilai tambah tinggi dan kemandirian produksi pangan.
Copyrights © 2025