Pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah wadah yang memfalisitasi manusia untuk berkembang, baik dari segi kognitif maupun non kognitif. Pendidikan berperan sebagai alat yang menjembatani individu untuk memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai kehidupan sebagai output individu yang berkualitas, terlebih pada pembentukan karakter. Pembentukan karakter yang berkualitas juga tidak lepas dari bagaimana peran budaya pendidikan yang menjadi entitas yang sangat sentral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran budaya pendidikan dengan mengkomparasi antara budaya sekolah formal (SMA Kolese De Britto) dan pondok pesantren (PP Shirothul Fuqoha) dalam membentuk karakter siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori Struktural Fungsionalisme “AGIL” (Talcott Parsons). Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sumber informasi yang dianggap menguasai fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa keduanya memiliki budaya pendidikan yang khas dalam mempengaruhi pembentukan karakter siswa. Sekolah formal lebih menekankan pada proses akademik dengan pembentukan pemikiran yang kritis, open minded, keterampilan sosial, dan keterampilan intepersonal yang baik. Sedangkan pada pendidikan di pesantren lebih menekankan pada pendalaman nilai-nilai keagamaan, moral, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan keteladanan.
Copyrights © 2024