Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya unsur-unsur narasi dalam buku cerita rakyat Maluku yang dinilai kurang ramah bagi pembaca anak. Adapun tujuan penelitian ini: pertama, menemukan dan menafsirkan ragam unsur bermasalah dalam cerita rakya Maluku; kedua, mendekonstruksi cerita rakyat Maluku tanpa menghilangkan nilai budaya lokalnya; ketiga, memerikan alternatif atau menghasilkan cerita rakyat Maluku yang lebih sesuai dengan prinsip sastra anak (mendidik, imajinatif, dan ramah psikologis). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan dekosntruksi Jacques Derrida. Data penelitian bersumber dari teks cerita rakyat Maluku yang kemudian dianalisis melalui tahap pelacakan isu logosentrisme, aporia, dan pemaknaan ulang terhadap narasi kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak cerita rakyat Maluku mengandung tema-tema berat. Anak-anak, belum memiliki kapasitas kognitif untuk memahami secara kritis tema-tema ini, sehingga berpotensi menimbulkan rasa takut atau ketidakpahaman terhadap pesan moral yang ingin disampaikan. Bahkan beberapa cerita mengandung deskripsi kekerasan, baik sebagai bagian dari konflik maupun konsekuensi moral. Cerita rakyat Maluku memiliki kekayaan budaya dan nilai historis yang besar, namun sebagian unsur naratif dan tematik di dalamnya kurang cocok untuk anak-anak. Dekonstruksi berhasil mengubah cerita rakyat Maluku yang kaku menjadi neologisme atau kebaruan makna yang lebih ramah secara psikologis dan edukatif bagi anak-anak.
Copyrights © 2026