Penelitian ini membahas ajaran tasawuf Jalaluddin Rumi mengenai konsep fanā’ (peleburan diri) dan baqā’ (kekalan dalam Tuhan) sebagai inti dari perjalanan spiritual seorang sufi menuju kesempurnaan ruhani. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) terhadap karya-karya utama Rumi seperti Matsnawi-i Ma‘nawi, Diwan-i Syams Tabrizi, dan Fihi Ma Fihi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fanā’ dalam pandangan Rumi bukan berarti lenyapnya eksistensi manusia secara fisik, melainkan hilangnya ego dan kehendak pribadi dalam kehendak Ilahi. Proses ini merupakan bentuk penyucian diri (tazkiyatun nafs) yang menuntun manusia menuju kesadaran tertinggi tentang Tuhan. Setelah mencapai fanā’, seorang sufi memasuki tahap baqā’, yaitu keberadaan yang kekal dalam cinta dan kesadaran Ilahi. Pada tahap ini, manusia hidup dalam kehadiran Allah, berbuat dengan cinta, dan menjadi cerminan sifat-sifat-Nya di dunia. Ajaran fanā’-baqā’ Rumi memiliki nilai pendidikan ruhani yang tinggi karena menekankan transformasi batin melalui cinta, kerendahan hati, dan pengabdian total kepada Allah. Nilai-nilai tersebut relevan untuk menghadapi krisis spiritual manusia modern serta membangun karakter religius yang ikhlas, bijaksana, dan berorientasi pada ketuhanan.
Copyrights © 2025