Reliance on chemical fertilizers in Petungsewu Village, Wagir District, has led to a decline in land quality, threatening the sustainability of local agriculture. On the other hand, the abundant goat manure waste has not been utilized optimally and tends to pollute the environment. This community service activity aims to educate and train the People's Forest Farmers Group (KTHR) in producing organic fertilizers through accelerated fermentation techniques using bioactivators. The methods used are technical assistance and direct practice of fertilizer manufacturing with control of moisture and aeration parameters. The results of the activity showed that within three weeks, goat manure waste was successfully transformed into mature organic fertilizer with physical characteristics of being crumbly, dark in color, and free of an ammonia odor. Application tests on cayenne pepper plants, the leading commodity in the Wagir region, showed a more stable increase in vegetative growth than with conventional chemical fertilizers. In addition to improving soil chemistry, this initiative has a positive economic impact by reducing farmers' production costs. Overall, this independent waste treatment is a sure strategy in supporting sustainable agriculture and fertilizer independence at the village level. Abstrak Ketergantungan pada pupuk kimia di Desa Petungsewu, Kecamatan Wagir, telah memicu penurunan kualitas lahan yang mengancam keberlanjutan pertanian lokal. Di sisi lain, limbah kotoran kambing yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal dan cenderung mencemari lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi serta melatih Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) dalam memproduksi pupuk organik melalui teknik fermentasi yang dipercepat dengan menggunakan bioaktivator. Metode yang digunakan adalah pendampingan teknis dan praktik langsung pembuatan pupuk dengan kontrol parameter kelembapan dan aerasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dalam waktu tiga minggu, limbah kotoran kambing berhasil ditransformasi menjadi pupuk organik matang dengan karakteristik fisik yang lemah, berwarna gelap, dan tidak berbau amoniak. Uji aplikasi pada tanaman cabai rawit sebagai komoditas unggulan wilayah Wagir menunjukkan peningkatan pertumbuhan vegetatif yang lebih stabil dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia konvensional. Selain memperbaiki sifat kimia tanah, inisiatif ini memberikan dampak ekonomi positif berupa efisiensi biaya produksi bagi para petani. Secara keseluruhan, pengolahan limbah mandiri ini menjadi strategi jitu untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan kemandirian pupuk di tingkat desa. Kata Kunci: cabai rawit; fermentasi; kotoran kambing; pertanian berkelanjutan
Copyrights © 2026