Latar Belakang: Impaksi merupakan kondisi kegagalan erupsi gigi ke posisi normal. Sekitar 65% populasi dunia memiliki satu gigi molar impaksi. Tingginya prevalensi impaksi gigi akan meningkatkan kebutuhan akan tindakan odontektomi. Odontektomi merupakan salah satu prosedur bedah minor yang paling sering dilakukan pada bedah mulut di rumah sakit. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Indonesia menetapkan Indonesian Case-Based Groups (INA-CBGs) sebagai sistem pembayaran di rumah sakit, Tujuan penelitian: adalah untuk melihat apakah ada perbedaan antara unit cost dan tarif INA-CBGs untuk tindakan odontektomi. Metode; sampel adalah rekam medis pasien 2020-2023 dengan diagnosis impaksi dan data keuangan rumah sakit tahun 2023. Step Down Cost Analysis digunakan untuk menghitung unit cost. Analisis data menggunakan uji t-test independen/Mann-Whitney dengan p-value < 0,005. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan antara unit cost dan tarif INA-CBGs pada tindakan odontektomi di RSUD Rasyidin Padang. Hasil penelitian: lama rawat pasien 3 hari dan pasien perempuan paling banyak, dengan kelompok usia terbesar 12–25 tahun. Unit cost odontektomi Rp. 10.965.879 ± 1.189.147 dan tarif INA CBGs Rp.3.349.600 ± 558.932. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan antara unit cost dan tarif. Kesimpulan: Unit cost yang lebih tinggi dari tarif INA CBGs, menyebabkan rumah sakit berpotensi mengalami kerugian akibat ketidaksesuaian antara unit cost dan tarif yang diterima. Perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian tarif supaya sesuai dengan unit cost.
Copyrights © 2026