Perubahan pola konsumsi media akibat disrupsi digital telah menyebabkan banyak media konvensional mengalami krisis eksistensi. Di tengah fenomena ini, Jawa Pos Televisi (JTV) Surabaya mempertahankan eksistensinya sebagai media lokal melalui strategi simbolik, yaitu komodifikasi bahasa lokal Suroboyoan dalam program Pojok Kampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bahasa lokal diposisikan sebagai simulacra dalam proses produksi berita dan bagaimana komodifikasi terjadi dalam ruang redaksi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis perspektif Jean Baudrillard, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap produser, presenter, dan audiens program. Hasil menunjukkan bahwa bahasa Suroboyoan telah kehilangan referensi aslinya dan menjadi bentuk representasi hiperrealitas, praktik ini membentuk realitas simbolik dalam ruang redaksi yang sesuai dengan konsep simulacra dan simulasi dari Jean Baudrillard yang berfungsi sebagai strategi membentuk persepsi dan mempertahankan keterikatan audiens lokal. Strategi ini membuktikan bahwa simbol budaya lokal dapat direkonstruksi sebagai alat resistensi media terhadap hegemoni digital. Temuan ini menunjukkan bahwa media lokal tidak hanya memproduksi informasi, tetapi juga membentuk persepsi melalui konstruksi simbolik bahasa.
Copyrights © 2025