Berbicara bukan sekadar bercakap-cakap tanpa makna. Dalam pembelajaran Berbicara sering dijumpai beberapa siswa enggan berbicara. Keengganan ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya 1) kurang adanya ide yang akan diungkapkan, 2) terbatasnya penguasaan kosakata dan tata bahasa, 3) keraguan terhadap ucapan yang benar. Bagaimana cara mereka mampu dan mau berbicara di depan kawan-kawannya? Terutama dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelasnya? Salah satu cara agar mereka mampu dan mau berbicara adalah dengan mengerti ketertarikan siswa. Merangsang siswa agar merasa tertantang untuk berbicara. Media yang mampu membuka kreativitas dan menjawab tantangan ini salah satunya adalah gambar kartun yang lucu, mereka akan menerjemahkannya sehingga tersusun kalimat yang dapat diungkapkan dalam bentuk lisan (presentasi) maupun tulisan. Inilah yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas di SMP Negeri 1 Sumedang Kabupaten Sumedang dengan subjek penelitian 36 siswa Kelas VII-C semester genap tahun pelajaran 2010/2011. Tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I selama 4 jam pelajaran tatap muka pertama, dan siklus II selama 4 jam pelajaran tatap muka kedua. Selama penelitian tindakan kelas pada siklus I dan II diobservasi oleh seorang guru mata pelajaran, diperoleh data perubahan perilaku positif tentang kegiatan guru, kegiatan siswa sebagai partisipan, dan siswa sebagai penyaji dalam presentasi bergilir. Hasil analisa data menunjukkan bahwa telah terjadi partisipasi pembelajaran berbicara secara aktif pada siswa, baik sebagai penerjemah gambar kartun menjadi cerita (100%), melaksanakan presentasi bergilir (100%) maupun sebagai partisipan (91,02%). Sebagai kesimpulan adalah serangkaian gambar kartun dan presentasi bergilir mampu meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran berbicara.
Copyrights © 2020