Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia dengan kontribusi sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap 97% tenaga kerja. Meskipun demikian, aktivitas UMKM, khususnya pada sektor industri pengolahan pangan seperti tahu dan tempe, juga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari proses produksi. Limbah cair dan padat yang tidak dikelola secara optimal dapat mencemari lingkungan dan berdampak pada masyarakat sekitar. Permasalahan utama yang dihadapi adalah masih terbatasnya pengetahuan pelaku usaha terkait pengelolaan limbah dan pencatatan biaya lingkungan secara sistematis. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan karyawan serta pemilik Pabrik Tahu dan Tempe Satria di Kabupaten Jayapura dalam mengidentifikasi dan menghitung biaya lingkungan sebagai upaya efisiensi limbah dan strategi keberlanjutan usaha. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan tahapan observasi, pelatihan, dan pendampingan monitoring berkala. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mitra dalam mengidentifikasi aktivitas yang menimbulkan biaya lingkungan, serta kemampuan dalam mengklasifikasikan biaya lingkungan ke dalam biaya pencegahan, deteksi, kegagalan internal, dan kegagalan eksternal. Namun demikian, implementasi pencatatan biaya lingkungan masih belum dilakukan secara konsisten dan masih memerlukan pendampingan lanjutan. Kegiatan ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas manajerial pelaku UMKM dalam pengelolaan limbah dan pencatatan biaya lingkungan, sehingga diharapkan dapat mendukung efisiensi operasional dan keberlanjutan usaha secara jangka panjang.
Copyrights © 2026