ABSTRAKMusik Bambu Tunta merupakan kesenian tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe yang menggunakan bambu sebagai bahan utama instrumen musik. Kesenian ini berkembang sejak tahun 1967 di Desa Tariang Lama, Kecamatan Kendahe, dan tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur musikal dan teknik permainan musik etnik Bambu Tunta. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ansambel Bambu Tunta terdiri atas instrumen melodi, ritme, dan bass yang dimainkan oleh 32 orang pemain. Struktur penyajiannya meliputi bagian pembukaan, inti, dan penutup. Teknik permainan mencakup pukul, tiup, gesek, vibrato, dan interlocking yang menghasilkan karakter musikal khas serta memperkuat pelestarian budaya lokal. ABSTRACTBambu Tunta is a traditional musical art of the Sangihe Islands community that uses bamboo as the primary material for its instruments. Developed in 1967 in Tariang Lama Village, Kendahe District, this musical tradition continues to be preserved as an important part of local cultural identity. This study aims to describe the musical structure and performance techniques of Bambu Tunta ethnic music. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the Bambu Tunta ensemble consists of melodic, rhythmic, and bass instruments performed by 32 musicians. Its musical presentation includes opening, main, and closing sections. Performance techniques involve striking, blowing, bowing, vibrato, and interlocking, creating a distinctive musical character while supporting the preservation of local cultural heritage.
Copyrights © 2026