Sampah makanan (food waste) merupakan salah satu permasalahan lingkungan global yang semakin mendapat perhatian karena berdampak pada keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, dan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dan Singapura menunjukkan karakteristik yang berbeda dalam pengelolaan sampah makanan, baik dari aspek kebijakan, teknologi, maupun partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan strategi pengelolaan sampah makanan di Indonesia dan Singapura dengan menggunakan pendekatan ekologi yang mempertimbangkan dimensi lingkungan, sosial, dan teknologi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan melalui analisis berbagai literatur ilmiah, dokumen kebijakan, laporan pemerintah, dan data sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah makanan masih menjadi kontributor terbesar timbulan sampah di Indonesia, mencapai 39,82% dari total sampah nasional. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui program seperti Gerakan Selamatkan Pangan (GSP), namun implementasinya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan infrastruktur pengolahan, dan belum optimalnya pemanfaatan teknologi. Sebaliknya, Singapura mampu mengelola sampah makanan secara lebih efektif dengan proporsi yang lebih rendah melalui penerapan kebijakan yang terintegrasi, pendidikan lingkungan yang kuat, serta pemanfaatan teknologi pengolahan dan pemulihan energi. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah makanan memerlukan sinergi antara kebijakan, inovasi teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat. Pengalaman kedua negara dapat menjadi pembelajaran penting dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah makanan yang lebih berkelanjutan.
Copyrights © 2026