Masalah kekurangan gizi pada balita dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya infeksi Soil Transmitted Helminths (STH). Infeksi kecacingan ini masih banyak ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan dapat berkontribusi terhadap gangguan status gizi serta kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan antosianin dari ekstrak ubi ungu sebagai pewarna alternatif dalam pemeriksaan telur cacing STH pada balita stunting di Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan desain observasi laboratorik yang bersifat deskriptif kategorik. Pengumpulan data diawali dengan pemberian kuesioner untuk menentukan responden yang sesuai dengan kriteria penelitian. Dari proses tersebut diperoleh 19 responden balita stunting. Sampel feses kemudian diperiksa menggunakan metode sedimentasi dengan pewarnaan ekstrak antosianin dari ubi ungu. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS melalui uji statistik frekuensi. Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan 4 dari 19 sampel positif mengandung telur cacing Ascaris lumbricoides. Telur fertil ditemukan pada sampel berkode 1 dan 3, sedangkan telur infertil ditemukan pada sampel berkode 8 dan 11. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi kecacingan pada balita stunting di Kecamatan Ujung Bulu dan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, sebesar 21,1%. Selain itu, ekstrak antosianin dari ubi jalar ungu dapat digunakan sebagai pewarna dalam pemeriksaan telur cacing STH. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, khususnya dalam bidang parasitologi dan sains kesehatan.
Copyrights © 2026