Blended learning semakin banyak diterapkan dalam pendidikan inklusif untuk mendukung peserta didik berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif guru terhadap implementasi blended learning di kelas inklusif. Penelitian menggunakan desain fenomenologi kualitatif dengan melibatkan lima guru dari sebuah sekolah inklusif di Medan, Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas, lalu dianalisis menggunakan kerangka thematic analysis enam tahap dari Braun dan Clarke. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama, yaitu personalisasi dan pemberdayaan siswa, integrasi teknologi asistif dan digital, model pembelajaran blended learning, serta tantangan sistemik. Guru menyatakan bahwa teknologi asistif, seperti screen reader dan voice recognition tools, serta sumber belajar berbasis multimedia mampu meningkatkan partisipasi, kemandirian belajar, dan keterlibatan siswa di kelas. Sebagian besar guru juga menerapkan model flipped classroom dan station rotation untuk mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam. Namun, penelitian ini menemukan beberapa hambatan, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kurangnya pelatihan profesional, dan lemahnya kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan institusi, pengembangan profesional guru secara berkelanjutan, dan penyediaan sumber belajar digital yang aksesibel.
Copyrights © 2026