Otoritas merupakan konsep krusial namun problematis dalam konteks pendidikan tinggi teologi di Indonesia, khususnya dengan hadirnya mahasiswa angkatan 2024–2025 yang termasuk dalam Generasi Z digital dan bersikap kritis terhadap hierarki tradisional. Artikel ini bertujuan mengkaji makna, tantangan, dan relevansi otoritas dalam pembinaan karakter mahasiswa STTIAA. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif, penelitian ini mengintegrasikan perspektif teologi, epistemologi personal Michael Polanyi, serta analisis kritis terhadap dinamika sosio-kultural dan kebijakan pendidikan tinggi Indonesia. Melalui penelusuran akar konseptual auctoritas (yang menumbuhkan) dan exousia (kewenangan delegasi), artikel ini berargumen bahwa otoritas yang relevan bukanlah dominasi struktural, melainkan otoritas yang menumbuhkan, melayani, dan membentuk kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi Generasi Z, otoritas dosen perlu diredefinisi sebagai otoritas dialogis, kuratorial, dan epistemik yang memandu pencarian kebenaran secara bijaksana. Refleksi diperkaya dengan pemikiran tokoh Indonesia seperti Magnis-Suseno, Darmaputera, dan Kristanto, serta data terkini tentang Generasi Z. Disimpulkan bahwa pemahaman otoritas yang alkitabiah (berdasarkan narasi Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan) dan responsif konteks mampu membentuk karakter mahasiswa yang integratif altruis, tangguh, dan misioner sesuai visi STTIAA. Rekomendasi praktis difokuskan pada pengembangan model kepemimpinan dosen, kurikulum partisipatif, dan penguatan komunitas akademik-spiritual.
Copyrights © 2026