Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pembangunan keuangan dan pembiayaan hijau terhadap tingkat dekarbonisasi di Indonesia periode 2012–2021. Menggunakan data sekunder dari Refinitiv Eikon dan World Bank, pembangunan keuangan diukur melalui dummy obligasi hijau, kredit domestik swasta, dan investasi asing langsung (FDI), sementara kualitas lingkungan dinilai dari emisi CO2, emisi gas rumah kaca (GHE), dan penipisan sumber daya alam (NRD) dengan mengontrol tingkat pendapatan, kualitas kelembagaan, serta populasi. Data dianalisis menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda, menghasilkan nilai Adjusted R Square masing-masing sebesar 96,7% (CO2), 91,7% (GHE), dan 98,0% (NRD). Hasil uji simultan (Uji F) menunjukkan pengaruh signifikan pada model NRD, namun tidak signifikan pada model emisi udara CO2 dan GHE dalam jangka pendek akibat keterbatasan ukuran sampel efektif (small sample bias). Secara parsial (Uji t), dummy obligasi hijau terbukti berpengaruh signifikan terhadap penipisan sumber daya alam, meskipun dampaknya pada pengurangan emisi belum optimal secara makro karena faktor time-lag. Lebih lanjut, variabel tingkat pendapatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penipisan sumber daya alam, yang memberikan dukungan empiris kuat terhadap validitas hipotesis Environmental Kuznets Curve (EKC) di Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas ekonomi nasional mampu mendorong perbaikan kualitas lingkungan melalui penurunan tingkat eksploitasi modal alam yang berlebihan.
Copyrights © 2026