Penelitian ini mengkaji representasi Spanyol dalam kurikulum sejarah SMA di tiga negara Asia Tenggara Indonesia, Malaysia, dan Filipina melalui pendekatan studi komparasi berbasis pustaka yang sistematis. Bertumpu pada teori memori kolektif, kurikulum sebagai konstruksi sosial, dan postkolonialisme dalam pendidikan sejarah , penelitian ini menganalisis dokumen kurikulum resmi dan buku teks terbitan pemerintah ketiga negara. Temuan menunjukkan disparitas dramatis: Spanyol hanya menempati kurang dari 2% konten sejarah Kurikulum Merdeka Indonesia, sekitar 3–5% dalam KSSM Sejarah Malaysia, dan 40–60% dalam K–12 Araling Panlipunan Filipina mencerminkan 333 tahun pengalaman kolonial langsung Filipina di bawah Spanyol (1565–1898). Framing dominan terhadap Spanyol juga berbeda: netral-faktual di Indonesia, kritis-regional di Malaysia, dan kompleks-ambigu di Filipina. Perbedaan ini dijelaskan oleh intensitas pengalaman kolonial langsung, proyek konstruksi identitas nasional, tujuan kebijakan kurikulum, imperatif ideologis yang tertanam dalam masing-masing kurikulum dan kekayaan historiografi akademik di masing-masing negara. Sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa kurikulum nasional tersentralisasi secara sistematis menghapus narasi sejarah lokal, penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakhadiran Spanyol dalam kurikulum Indonesia dan Malaysia mencerminkan selective amnesia struktural yang memperkuat narasi nasional dominan. Penelitian ini mendorong dekolonisasi pendidikan sejarah ASEAN dan penguatan perspektif regional dalam kurikulum nasional.
Copyrights © 2026