Penelitian ini bertujuan menganalisis negosiasi antara tradisi keilmuan pesantren dan teknologi pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam kajian kitab kuning. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Pondok Pesantren At-Thohiriyah. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri memanfaatkan teknologi untuk mencari makna kosa kata, referensi, dan penjelasan tambahan, namun kiai dan ustaz tetap menjadi otoritas utama dalam validasi makna, konteks, dan adab keilmuan. Pesantren juga menerapkan aturan penggunaan teknologi agar tidak menggantikan metode talaqqi dan sorogan. Temuan ini menunjukkan adanya negosiasi antara efisiensi teknologi dan pelestarian tradisi keilmuan pesantren.
Copyrights © 2026