Indonesia menguasai 75 persen produksi pala dunia, namun kinerja ekspornya menghadapi paradoks: nilai RCA sangat tinggi di pasar Eropa, tetapi 95 persen Notification of Non-Compliance (NNC) dari Uni Eropa akibat aflatoksin diterima oleh Indonesia. Paradoks ini mengindikasikan kesenjangan antara keunggulan komparatif terukur dan keberterimaan produk di pasar internasional yang memerlukan analisis komprehensif. Penelitian ini menganalisis daya saing dan faktor penentu ekspor pala utuh (HS 090811) dan pala bubuk (HS 090812) Indonesia ke sembilan negara tujuan utama selama 2014–2023, mengisi celah studi yang belum mengintegrasikan analisis statis (RCA), dinamis (EPD), klasifikasi potensi pasar (X-Model), dan determinan ekspor (regresi data panel) secara simultan dengan variabel SPS dan TBT bersamaan. Hasil menunjukkan RCA Indonesia konsisten >4 di seluruh negara tujuan; EPD mengidentifikasi Pakistan sebagai rising star untuk pala utuh, serta AS, Inggris, dan India untuk pala bubuk; X-Model memetakan prioritas pengembangan pasar secara strategis. Regresi panel menemukan harga ekspor berpengaruh negatif signifikan terhadap kedua produk, dan kebijakan SPS berpengaruh positif signifikan terhadap pala utuh melalui mekanisme compliance catalyst effect. Temuan ini menegaskan bahwa RCA tinggi tidak otomatis menjamin penerimaan pasar. Implikasi kebijakan meliputi penguatan penerapan SPS/TBT di sepanjang rantai pasok, peningkatan hilirisasi (produk pala bubuk bernilai tambah), dan diversifikasi pasar tujuan untuk mengurangi konsentrasi risiko ekspor.
Copyrights © 2026