Rendahnya efisiensi produksi akibat pengirisan manual menjadi kendala utama UMKM keripik pisang dalam meningkatkan nilai tambah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efisiensi produksi (waktu pengirisan, kapasitas produksi, jumlah tenaga kerja) dan peningkatan nilai tambah (output harian, keseragaman irisan, harga jual, nilai tambah per kg pisang segar) sebelum dan sesudah penerapan alat pengiris otomatis. Studi kasus kuantitatif dengan desain pre-experimental (one-group pretest-posttest) dilakukan pada UMKM Keripik Pisang “Rasa Lestari” di Gresik, Indonesia. Data dikumpulkan melalui observasi, pengukuran langsung, dan wawancara terstruktur pada 5 kali produksi manual dan 5 kali produksi otomatis (masing-masing 30 kg pisang segar). Analisis menggunakan paired t-test (α=0,05) dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat pengiris otomatis menurunkan waktu pengirisan dari 8,5±0,4 menjadi 1,2±0,1 menit/kg (p<0,001; efisiensi 85,9%), meningkatkan kapasitas produksi dari 7±0,5 menjadi 50±2,1 kg/jam (p<0,001; peningkatan 614%), serta mengurangi tenaga kerja dari 3 menjadi 1 orang (penghematan 66,7%). Nilai tambah per kg pisang segar meningkat dari Rp17.000 menjadi Rp24.000 (naik 41%), dengan harga jual naik 28% (Rp25.000 → Rp32.000/kg) dan output harian naik 714% (21 → 150 kg). Simpulan penelitian ini adalah penerapan alat pengiris otomatis terbukti efektif meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah UMKM keripik pisang. Implikasinya, teknologi ini direkomendasikan untuk adopsi luas pada UMKM sejenis, dengan catatan generalisasi terbatas pada konteks studi kasus.
Copyrights © 2026