Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan praktik akuntabilitas dalam akuntansi modern yang sering dipahami secara terbatas sebagai kewajiban administratif yang berfokus pada pelaporan keuangan, kepatuhan terhadap standar formal, serta mekanisme pengendalian organisasi. Pendekatan yang cenderung teknis dan mekanistik tersebut menyebabkan dimensi etika, nilai kemanusiaan, serta kearifan lokal dalam praktik pertanggungjawaban organisasi seringkali terabaikan. Kondisi ini menjadi semakin relevan dalam konteks perusahaan teknologi multinasional seperti NTT Data, Inc., yang mengandalkan sistem teknologi, tata kelola global, serta prosedur formal untuk membangun transparansi dan akuntabilitas kepada para pemangku kepentingan. Meskipun sistem tersebut efektif dalam mendukung efisiensi dan kepatuhan, ketergantungan yang berlebihan pada mekanisme formal berpotensi menciptakan kesenjangan antara akuntabilitas yang bersifat transaksional dengan kebutuhan akan hubungan kerja yang lebih harmonis, beretika, dan berkelanjutan. Tanpa landasan nilai yang kuat, akuntabilitas berisiko hanya menjadi instrumen kontrol birokratis yang minim empati dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mengkonstruksi pemahaman akuntabilitas organisasi melalui perspektif kearifan lokal Sunda, yaitu filosofi kepasundanan silih asah, silih asih, dan silih asuh. Silih asah dimaknai sebagai proses saling berbagi dan mengembangkan pengetahuan, silih asih merepresentasikan sikap saling menghargai serta kepedulian antarindividu, sedangkan silih asuh mencerminkan tanggung jawab untuk saling membimbing, menjaga, dan menumbuhkan keberlanjutan hubungan kerja dalam organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis interpretatif untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut dapat memperkaya konstruksi akuntabilitas organisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh mampu memperluas makna akuntabilitas tidak hanya sebagai proses pelaporan dan pengendalian, tetapi juga sebagai praktik sosial yang menekankan kerja sama, kepedulian, pembinaan, serta tanggung jawab moral perusahaan terhadap para pemangku kepentingan sehingga menghadirkan model akuntabilitas yang lebih humanistik, etis, dan holistik dalam praktik organisasi modern
Copyrights © 2026