Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah kota Jakarta. Masyarakat yang tinggal di Kota Surabaya tidak hanya penduduk asli, tapi juga masyarakat yang berasal dari desa. Laju pertumbuhan masyarakat Surabaya disebabkan karena melihat bahwa peluang kerja di daerah Surabaya lebih besar. Hal ini menjadi daya tarik masyarakat baik dari kalangan dewasa maupun pelajar. Selain tujuan bekerja kota Surabaya menjadi sasaran pelajar untuk menimba ilmu dijenjang universitas. Kondisi demikian yang menjadikan Surabaya sebagai kota metropolitan. Bangunan-bangunan tinggi banyak dijumpai di daerah Surabaya seperti pusat perbelanjaan, pusat pemerintahan, dan pusat perdagangan. Kondisi demikian memberikan perubahan bagi pelajar perkotaan yang berasal dari desa ke kota untuk menuntut ilmu. Artikel ini mengkaji mengenani bagaimana gaya hidup mahasiwa yang datang dari desa ke Surabaya melihat kondisi lingkungan kampus yang banyak mahasiswa dari daerah namun mengalami perubahan gaya hidup. Pada artikel penelitian ini penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data wawancara dan observasi. Kemudian dari data yang diperoleh di jabarkan secara deskriptif. Hasil penelitian ini Dari hasil dan pembahasan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perubahan yang terjadi pada informan adalah gaya hidup meliputi cara berpakaian yang cenderung memilih produk branded, kebiasaan nongkrong, dan gaya bahasa yang cenderung logat bahasa Surabaya. Kondisi demikian terjadi karena proses perubahan budaya dari daerah yang cenderung sederhana menjadi budaya kota yang identik dengan kehidupan mall dan nongkrong, sehingga bukan hanya cara berpakaian yang berubah namun pola kebiasaan siswa daerah juga mengalami perubahan.
Copyrights © 2026