Penelitian ini melatarbelakangi fenomena dinamika organisasi mahasiswa yang sering kali memicu konflik internal akibat perbedaan posisi dan otoritas antara pengurus dan anggota biasa. Konflik ini disebabkan oleh perbedaan posisi dan otoritas antara pengurus dan anggota biasa. Dengan menggunakan teori sosiologi konflik dari Ralf Dahrendorf, struktur organisasi dapat dipahami sebagai sebuah sistem yang dikoordinasikan secara otoritatif. Dalam sistem ini, pola komunikasi sangat penting untuk menjaga stabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana pola komunikasi terbentuk antara pengurus himpunan dan mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan Wakil Ketua Himpunan dan kuesioner berupa Google Form yang disebarkan kepada mahasiswa PKn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang digunakan oleh pengurus himpunan adalah dua arah (two-way communication). Artinya, komunikasi tidak hanya dari atas ke bawah, tetapi juga dari bawah ke atas. Pengurus menggunakan saluran komunikasi formal dan informal untuk mendengar aspirasi mahasiswa dan meredam potensi konflik. Meskipun pengurus masih memiliki posisi yang lebih tinggi, pendekatan komunikasi yang inklusif ini efektif dalam meminimalkan resistensi dari mahasiswa. Dapat disimpulkan bahwa dengan mengelola pola komunikasi yang adaptif, kepentingan yang saling bertentangan dapat diselaraskan. Dengan demikian, keharmonisan organisasi dapat tetap terjaga.
Copyrights © 2026