Perusahaan manufaktur dipandang sebagai sistem sosial kompleks yang keberlangsungan hidupnya bergantung pada kemampuan manajemen merawat keseimbangan internal dan eksternal. Salah satu instrumen penting dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah melalui strategi pemenuhan kesejahteraan dan fasilitas fisik bagi karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk membedah bagaimana strategi pemenuhan kesejahteraan tanpa fasilitas kantin internal mampu mengonstruksi budaya disiplin kerja karyawan. Selain itu, penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi kebijakan tersebut dalam menciptakan hubungan integrasi sosial-ekonomi yang positif dengan masyarakat sekitar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Unit Gedangan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam bersama pihak manajemen HR&GA dan pedagang lokal, observasi langsung, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan kantin fisik dialihkan menjadi tunjangan uang makan harian berbasis aplikasi MyJAPFA untuk efisiensi biaya operasional. Kompensasi finansial bersyarat ini terbukti efektif menegakkan budaya ketepatan waktu kerja karyawan melalui sanksi hangus otomatis jika terjadi keterlambatan. Di ranah eksternal, kebijakan ini memicu dampak meluber (spillover effect) berupa berdirinya klaster warung makan tradisional oleh masyarakat sekitar pabrik. Melalui kacamata skema AGIL Talcott Parsons, fenomena ini mengonstruksi jaringan solidaritas organik berbentuk simbiosis mutualisme yang harmonis antara sektor formal dan informal. Kesimpulannya, ekuilibrium hubungan jangka panjang antara industri manufaktur dan komunitas lokal dapat terwujud secara alami melalui kebijakan penciptaan ruang ekonomi inklusif yang saling menguntungkan.
Copyrights © 2026