Kampung adat wologai yang terletak di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu permukiman tradisional suku Lio yang hingga kini masih mempertahankan keutuhan budaya leluhurnya. Penelitian ini bertujuan mengeskplorasi sejarah berdirinya kampung adat, fungsi sosial dan ritual rumah adat sa’o, peran kepemimpinan Mosalaki dalam sistem adat, pelaksanaan upcara adat Nggua, tata ruang dan arsitektur bangunan tradisional, makna simbol ukiran, serta dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat setempat.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam bersama Mosalaki Ria Bewa Wologai, Bapak Bernardus Leo Wara dan dokumentasi lapangan pada 16 Mei 2026. Analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014) yang meliputu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kampung adat wologai telah berdiri selama sembilan generasi dan menyimpan nilai sejarah, sosial, spiritual, serta ekologis yang saling terkait. Tata ruang kampung membentuk pola konsentris tiga lapis yang mencerminkan kosmologis suku lio tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Ukiran-ukiran pada sa’o berfungsi sebagai teks visual yang menyampaikan pesan filosofi tentang identitas nilai komunal. Perkembangan wologai sebagai desa wisata sejak 2011 memberikan manfaat ekonomi nyata, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga autentisitas tradisi. Pebelitian ini menyimpulkan bahwa kampung Adat Wologai merupakan warisan budaya yang masih hidup dan relevan, sehingga memerlukan pengelolaan terpadu yang mengintegrasikan pelestarian nilai budaya dengan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026