Penelitian ini menganalisis rasionalitas manuver politik PDI Perjuangan sebagai penantang tunggal melawan hegemoni koalisi raksasa 17 partai pada Pilkada Kabupaten Bogor 2024. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik, pengumpulan data dilakukan menggunakan analisis dokumen serta wawancara mendalam bersama informan kunci, Bayu Syahjohan. Studi ini memadukan konsep poliarki Robert A. Dahl dan teori koalisi rasional William H. Riker untuk membedah anomali elektoral tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan maju sendirian dengan probabilitas kekalahan tinggi bukanlah tindakan irasional, melainkan strategi jangka panjang (long game) guna mengakuisisi kompensasi strategis (side-payments). Dalam perspektif Dahl, manuver ini secara de facto mencegah fenomena calon tunggal dan menyelamatkan pilar kontestasi publik. Melalui kacamata Riker, kekalahan elektoral tersebut dikalkulasi demi empat payoff fundamental: (1) modal simbolik sebagai penjaga demokrasi, (2) konsolidasi aliansi oposisi yang sukses menarik faksi non-parlemen, (3) akuisisi 599.453 suara murni (27,77%) sebagai investasi politik menuju 2029, dan (4) pemetaan faktual atas ekosistem pragmatisme (high-cost politics) di akar rumput. Penelitian ini berkontribusi menjembatani dikotomi antara analisis normatif dan kalkulasi rasional dalam menjelaskan dinamika oposisi di tengah kuatnya arus kartelisasi politik lokal.
Copyrights © 2026