Fenomena pergeseran semantis kata sayyârah dari makna klasik “kafilah” menuju makna modern “mobil” menunjukkan dinamika bahasa yang bergerak secara diakronik seiring perubahan budaya dan teknologi. Dalam konteks Al-Qur’an, khususnya QS. Yusuf, kata sayyârah merujuk pada rombongan musafir atau kafilah dagang, bukan kendaraan bermotor sebagaimana dipahami dalam bahasa Arab kontemporer. Pergeseran ini berpotensi memicu anakronisme apabila penerjemahan dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks historis turunnya ayat. Penelitian ini bertujuan menganalisis dialektika makna tersebut serta proses kognitif-abstraktif yang dilakukan ChatGPT dan Kemenag dalam menerjemahkan redaksi sayyârah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan integrasi semantik Toshihiko Izutsu dan kerangka kognitif Recognizing, Building-with, Constructing (RBC). Temuan menunjukkan bahwa kedua pihak mampu mempertahankan makna historis “kafilah/musafir” melalui sinkronisasi konteks abad ke-7. Dengan demikian, esensi makna tetap terjaga meskipun makna relasionalnya mengalami transformasi dalam perkembangan bahasa.
Copyrights © 2026