Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi mahasiswa broken home dalam menghadapi dampak perceraian orang tua. Perceraian orang tua dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis anak, terutama ketika anak sudah memasuki masa dewasa awal dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai perasaan seperti sedih, kecewa, marah, bingung, dan kehilangan rasa nyaman dalam keluarga. Meskipun demikian, mahasiswa yang mengalami perceraian orang tua tidak selalu larut dalam keadaan negatif, karena sebagian dari mereka mampu beradaptasi dan membangun kekuatan diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tujuan menggali pengalaman mahasiswa secara lebih mendalam. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui wawancara kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga bercerai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi mahasiswa terbentuk melalui proses yang tidak singkat. Mahasiswa perlu menerima keadaan, mengelola tekanan emosional, serta mencari cara untuk tetap menjalani kehidupan dengan baik. Strategi yang digunakan antara lain melakukan kegiatan positif, menyalurkan emosi melalui hobi, menulis jurnal, berolahraga, dan mencari dukungan dari orang terdekat. Selain faktor dari dalam diri, dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa menghadapi dampak perceraian orang tua. Dukungan dari keluarga, teman, maupun pasangan dapat membuat mahasiswa merasa lebih dihargai, didengar, dan tidak sendirian. Dengan demikian, resiliensi menjadi salah satu faktor utama yang membantu mahasiswa broken home untuk bangkit dari pengalaman sulit dan tetap berkembang secara positif dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Copyrights © 2026