Studi ini menyelidiki respons afektif siswa muda terhadap bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar swasta di Indonesia, dengan fokus pada apakah bahasa Inggris dianggap menyenangkan atau menimbulkan kecemasan. Menggunakan desain deskriptif kualitatif yang didukung oleh data kuesioner kuantitatif, penelitian ini melibatkan dua belas siswa kelas enam (berusia 11-12 tahun) yang mengisi kuesioner sikap 10 item menggunakan skala berbasis emoji (skor rata-rata = 31,25, menunjukkan sikap positif), lima di antaranya berpartisipasi dalam wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,6% siswa melaporkan emosi positif (senang atau sangat senang), 25% merasa netral, dan 8,3% menyatakan takut. Analisis tematik mengidentifikasi lima faktor yang saling terkait yang membentuk respons afektif siswa: (1) kenikmatan melalui aktivitas pembelajaran interaktif, (2) rasa takut dan kecemasan dalam situasi penampilan, (3) pengaruh guru terhadap emosi, (4) lingkungan kelas dan dinamika teman sebaya, dan (5) pembelajaran di luar kelas. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif berbasis permainan menumbuhkan kesenangan dan motivasi, sementara tugas-tugas yang berfokus pada tata bahasa, rasa takut membuat kesalahan di depan teman sebaya, dan kurangnya dukungan memicu kecemasan. Studi ini menyimpulkan bahwa dimensi afektif sangat penting dalam pendidikan bahasa Inggris usia dini di Indonesia, dan guru dapat meningkatkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, menarik, dan relevan secara kontekstual.
Copyrights © 2026