Dumai adalah wilayah yang terletak di daerah pesisir Riau, yang memiliki hutan bakau dan objek wisata yang menjanjikan: edukatif-ekowisata bakau Bandar Bakau. Pengelolaan edukatif-ekowisata bakau Bandar Bakau di Dumai menghadapi kendala karena rendahnya partisipasi masyarakat akibat kurangnya komunikasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi dari enam informan, menggunakan teknik pengambilan sampel purposif dan snowball. Hasil menunjukkan bahwa para komunikator memiliki daya tarik dan kredibilitas dalam menyampaikan pesan mereka. Audiens ditentukan berdasarkan kedekatan geografis, tingkat partisipasi, dan potensi konflik sosial-ekonomi. Pesan disampaikan dengan menerapkan triple bottom line (manusia-planet-keuntungan). Saluran yang digunakan adalah hibrida komunikasi tatap muka dan digital bilingual, dan respons bervariasi dari dukungan penuh hingga apatis. Strategi ini secara efektif menjembatani peraturan nasional dan kearifan lokal, namun, strategi ini menghadapi tantangan literasi digital, sehingga perlu memperkuat umpan balik formal dan komunikasi interpersonal yang intensif untuk partisipasi yang optimal.
Copyrights © 2026