Penelitian ini mengkaji konstruksi sosial tentang gangguan jiwa dalam Deaf Community Kupang serta implikasinya terhadap perlakuan terhadap orang dengan gangguan jiwa di luar komunitas. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan tujuh partisipan yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur berbantuan penerjemah bahasa isyarat, dan dokumentasi, serta divalidasi melalui member checking. Hasil menunjukkan bahwa makna gangguan jiwa dibentuk melalui praktik komunikasi visual-linguistik dalam bahasa isyarat, yang memandang individu dengan gangguan jiwa sebagai pihak yang membutuhkan dukungan, meskipun masih terdapat pengaruh pandangan kultural yang mengaitkannya dengan faktor mistis atau moral. Konstruksi ini memengaruhi sikap komunitas, yang cenderung menjaga jarak dalam situasi tertentu, namun tetap menunjukkan empati tanpa diskriminasi langsung.
Copyrights © 2026